Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Gagasan perlawanan bukanlah sesuatu yang baru. Menurut laporan ini, konsep tersebut berakar pada sejarah para nabi yang berjalan di jalan kebenaran.
Poros Perlawanan sepanjang sejarahnya telah mengalami berbagai pasang surut, tetapi dinilai selalu mengambil pelajaran dan memperkuat diri. Saat ini, berbagai bagian dari poros tersebut disebut memiliki tujuan bersama, yakni mendorong keluarnya Amerika Serikat dari kawasan dan pada akhirnya mengakhiri keberadaan Israel, dengan harapan Asia Barat kembali stabil.
Lebanon dipandang sebagai salah satu pintu masuk pengaruh Amerika Serikat ke Asia Barat sekaligus ujung tombak Poros Perlawanan dalam menghadapi Israel. Karena itu, Lebanon secara alami ikut menanggung dampak perubahan tatanan keamanan kawasan. Namun, menurut laporan ini, koordinasi di lapangan ditujukan agar anggota-anggota Poros Perlawanan tidak dibiarkan menghadapi tekanan sendirian.
Berikut laporan mengenai perkembangan di Asia Barat dengan fokus pada Lebanon dan Yaman.
Ancaman Iran terhadap Israel
Dr. Alireza Taqavinia, doktor hubungan internasional, membahas kondisi lapangan di kawasan perbukitan Ali al-Tahir di Lebanon.
Ia mengatakan bahwa Israel tampaknya telah mengurungkan niat memasuki fasilitas penting di kawasan tersebut. Menurut informasi yang beredar, keputusan itu dikaitkan dengan ancaman serius Iran terhadap Israel dan sejumlah negara Arab yang mendukungnya.
Taqavinia menambahkan bahwa disebut telah tercapai suatu kesepahaman sementara: Hizbullah tidak menggunakan posisi di ketinggian Ali al-Tahir untuk mengancam Israel, sementara Israel tidak memasuki fasilitas rudal Hizbullah yang berada di kawasan tersebut.
Ia menegaskan bahwa kesepahaman itu tidak berarti Israel telah menguasai perbukitan Ali al-Tahir.
Menurutnya, meskipun untuk sementara tidak ada aksi terhadap Israel dari wilayah tersebut, jalur keluar-masuk pasukan Hizbullah tetap terbuka. Bertahannya fasilitas rudal tersebut, menurutnya, merupakan sebuah capaian positif.
Ali al-Tahir dan Kampanye Propaganda Netanyahu
Taqavinia juga menyinggung keterbatasan pengaruh serangan rudal Iran dalam menghentikan pergerakan darat Israel di Lebanon.
Menurutnya, perang gerilya di kawasan pegunungan tidak dapat secara langsung dihentikan hanya melalui serangan rudal yang diluncurkan dari Iran.
Ia juga menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berusaha mencari alasan untuk memperluas perang dengan Iran sebagai jalan keluar dari tekanan politik dan situasi pemilu yang dihadapinya.
Mengenai video yang dirilis juru bicara militer Israel tentang terowongan-terowongan cabang Hizbullah di perbukitan tersebut, Taqavinia menilainya sebagai bagian dari kampanye propaganda Netanyahu untuk menampilkan kemenangan menjelang pemilu dan menutupi berbagai kegagalan.
Taqavinia mengatakan Hizbullah memang mengalami kerugian, tetapi menurutnya kelompok tersebut tetap memiliki keteguhan dan kemauan untuk bertahan.
Ia menilai kondisi Hizbullah saat ini harus dilihat dari rangkaian perkembangan sejak perubahan besar di Suriah dan peristiwa 7 Oktober.
Di antara faktor yang disebut memperberat posisi Hizbullah adalah ledakan perangkat pager, terbunuhnya Sayyid Hassan Nasrallah dan sejumlah komandan Hizbullah, kebuntuan politik di Lebanon, kemiskinan akibat sanksi Amerika Serikat, serta tekanan terhadap infrastruktur domestik.
Faktor-faktor tersebut, menurutnya, membuat Hizbullah berada dalam situasi yang sulit untuk memberikan respons secara maksimal.
Yaman Bersiap Menuju Penyatuan
Menurut laporan ini, memahami perkembangan di Lebanon juga memerlukan pemahaman terhadap dinamika di Yaman.
Karena itu, bagian kedua laporan membahas upaya Ansarullah dalam memperluas kontrol dan menuju penyatuan Yaman.
Perang Arab Saudi dan Yaman disebut bermula sejak 2014 dalam situasi yang tidak seimbang dan hingga kini terus berlanjut dalam berbagai bentuk, termasuk blokade udara dan laut, tekanan politik serta operasi militer terbatas.
Laporan tersebut menyebut bahwa beberapa waktu lalu Iran, sebagai salah satu sekutu utama Ansarullah, mengambil langkah yang disebut membantu mematahkan blokade udara terhadap Yaman. Langkah ini kemudian dikaitkan dengan serangan Saudi terhadap sejumlah wilayah yang dikuasai Ansarullah dan dibalas dengan serangan dari pihak Yaman.
Taqavinia mengatakan bahwa dalam perkembangan terbaru, Ansarullah tidak hanya melancarkan serangan drone dan rudal ke wilayah Arab Saudi, tetapi juga bergerak maju di kawasan yang dikuasai kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Riyadh.
Aden dan Mocha: Jalan Menuju Kendali Bab al-Mandab
Menurut Taqavinia, Ansarullah telah berhasil menguasai sejumlah dataran tinggi di sekitar pelabuhan Mocha (al-Makha) dan kini bergerak mengepung serta maju menuju wilayah timur dan kota penting Taiz. Ia menekankan pentingnya posisi strategis Taiz.
Menurutnya, Taiz merupakan salah satu dari lima kota terpenting di Yaman dan memiliki posisi penting dalam akses menuju kawasan selatan. Laporan tersebut menyebut jarak Taiz dengan pelabuhan utama Yaman di Laut Arab, yakni Aden, sekitar 30 kilometer.
Taqavinia berpendapat bahwa penguasaan atas kedua kota tersebut dapat membuka jalan menuju integrasi teritorial Yaman yang lebih luas.
Ia mengatakan: “Jika Aden di selatan dan pelabuhan Mocha di barat jatuh ke tangan Ansarullah, kita akan menyaksikan kendali penuh atas Selat Bab al-Mandab.”
Ia menyebut beberapa faktor yang menurutnya mendukung kekuatan Ansarullah, antara lain persenjataan buatan dalam negeri, persatuan suku-suku, keyakinan dan kemauan untuk bertahan, serta daya tahan masyarakat Yaman menghadapi kemiskinan dan berbagai kesulitan.
Evaluasi Akhir
Tekanan politik Amerika Serikat, pengaruh dana Saudi, serta kemajuan militer Israel di Lebanon dinilai telah membatasi kemampuan Hizbullah untuk memberikan respons yang memadai. Namun laporan ini menekankan bahwa Poros Perlawanan terdiri atas berbagai aktor yang dapat memasuki arena pada waktu yang berbeda-beda.
Menurut analisis tersebut, tampaknya telah terjadi semacam pembagian peran dalam menghadapi tekanan terhadap Lebanon. Iran disebut menggunakan Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan ekonomi serta melakukan tekanan politik terhadap pemerintah Lebanon untuk menghadapi pengaruh Amerika Serikat.
Dalam konteks yang sama, perkembangan konflik Yaman–Arab Saudi juga dipandang penting.
Ansarullah disebut berupaya memperoleh kendali lebih besar atas Selat Bab al-Mandab dan menargetkan kilang-kilang minyak Saudi, dengan tujuan mengganggu kemampuan Riyadh memberikan dukungan finansial kepada kelompok-kelompok yang berseberangan dengan Hizbullah.
Sementara itu, Hizbullah disebut tetap menghadapi kemajuan Israel meskipun berada dalam berbagai keterbatasan, dengan tujuan mempertahankan keutuhan Lebanon dan posisi komunitas Syiah di negara tersebut.
Laporan itu menilai Hizbullah sebagai gerakan yang memiliki akar sosial dan ideologis yang kuat dan memperkirakan kelompok tersebut dapat kembali membangun kekuatannya dalam waktu mendatang, sebagaimana Hamas, serta tetap memainkan peran penting di dalam Poros Perlawanan.
Komentar Anda